Lewati ke konten utama

5 menit baca

Penyimpanan Obat di Apotek: Suhu, Rantai Dingin, dan Penataan

Cara menyimpan obat menentukan mutunya sampai ke tangan pasien. Pahami aturan suhu ruang vs rantai dingin, penataan dengan prinsip FEFO, pemisahan obat khusus, dan rutinitas pemantauan suhu serta kedaluwarsa di apotek Anda.

Penyimpanan Obat di Apotek: Suhu, Rantai Dingin, dan Penataan

Penyimpanan obat apotek sering dianggap sekadar urusan menaruh barang di rak. Padahal, cara penyimpanan obat apotek menentukan apakah khasiatnya tetap terjaga sampai ke tangan pasien. Sesuai pedoman CDOB BPOM, obat yang disimpan pada suhu yang salah bisa rusak tanpa terlihat berubah sama sekali dari luar.

Artikel ini membahas prinsip dasar yang perlu dijalankan setiap hari: pembagian suhu penyimpanan, penataan rak dengan prinsip FEFO, pemisahan obat yang butuh perlakuan khusus, serta rutinitas pemantauan suhu dan kedaluwarsa. Semuanya hal praktis yang bisa langsung Anda periksa di apotek sendiri.

Suhu ruang vs rantai dingin: obat mana disimpan di mana

Tiga kelompok suhu penyimpanan obat apotek menurut DHealthcare: suhu ruang 15 sampai 30 derajat Celsius, suhu sejuk 8 sampai 15 derajat, dan rantai dingin 2 sampai 8 derajat untuk vaksin dan insulin.
Tiga kelompok suhu penyimpanan obat. Patokan selalu tulisan pada kemasan.

Aturan pertama penyimpanan obat sederhana: ikuti suhu yang tertulis pada kemasan. Produsen sudah menguji stabilitas obatnya pada rentang suhu tertentu, dan di luar rentang itu mutu obat tidak lagi dijamin.

Secara umum ada tiga kelompok. Suhu ruang berkisar 15–30°C, dan sebagian label meminta lebih ketat, yaitu di bawah 25°C. Suhu sejuk berada di rentang 8–15°C. Sementara itu, rantai dingin (cold chain) berarti 2–8°C dan berlaku untuk produk seperti vaksin, insulin, serum, dan sebagian suppositoria.

Untuk kelompok terakhir ini, ada beberapa kebiasaan yang perlu dijaga. Gunakan lemari pendingin khusus obat, bukan kulkas yang bercampur dengan makanan dan minuman staf. Hindari menaruh produk di rak pintu, karena suhunya paling tidak stabil setiap kali pintu dibuka. Beri jarak antar kemasan agar udara dingin tetap bersirkulasi, dan jangan pernah membekukan produk rantai dingin kecuali labelnya memang meminta demikian. Insulin yang pernah beku, misalnya, sudah tidak layak digunakan meski tampak normal.

Satu hal lagi yang sering terlewat: kelembapan dan cahaya. Simpan obat jauh dari sinar matahari langsung dan sumber panas, dan jaga ruangan tetap kering. Tablet yang lembap bisa berubah tekstur dan mutunya menurun.

Penataan rak untuk penyimpanan obat apotek dan prinsip FEFO

Setelah suhu benar, tantangan berikutnya adalah penataan. Tujuannya dua: obat mudah ditemukan, dan obat yang lebih dulu kedaluwarsa keluar lebih dulu.

Prinsip yang dipakai di farmasi adalah FEFO, First Expired First Out. Ini berbeda dari FIFO yang hanya melihat urutan barang datang. Pada FEFO, yang menentukan urutan pengeluaran adalah tanggal kedaluwarsa, karena bisa saja barang yang datang belakangan justru kedaluwarsanya lebih pendek. Praktiknya sederhana: saat menerima barang baru, letakkan di belakang stok lama, lalu periksa tanggalnya. Kalau ternyata batch baru lebih cepat kedaluwarsa, tukar posisinya.

Beberapa kebiasaan penataan yang terbukti membantu:

  • Kelompokkan obat berdasarkan bentuk sediaan (tablet, sirup, salep, injeksi), lalu urutkan alfabetis di dalam kelompoknya.
  • Jangan letakkan dus obat langsung menempel lantai atau dinding; gunakan palet atau rak agar terhindar dari lembap.
  • Beri penanda pada obat yang kedaluwarsanya dekat, misalnya stiker warna untuk yang habis dalam tiga atau enam bulan ke depan.
  • Pisahkan area karantina untuk obat kedaluwarsa atau rusak yang menunggu pemusnahan, supaya tidak tercampur dengan stok layak jual.

Penataan yang konsisten juga memudahkan asisten apoteker baru. Mereka tidak perlu menghafal letak barang dari kebiasaan orang lama.

Obat yang butuh pemisahan khusus

Tidak semua obat boleh berbaur di rak umum. Narkotika dan psikotropika wajib disimpan dalam lemari khusus yang terkunci, dengan akses terbatas dan pencatatan yang tertib. Ini kewajiban regulasi, bukan sekadar kebiasaan baik.

Kelompok lain yang perlu perhatian adalah obat LASA (look-alike, sound-alike): obat yang nama atau kemasannya mirip. Amlodipine 5 mg dan 10 mg, misalnya, sebaiknya tidak diletakkan bersebelahan. Beri jarak dan penanda yang jelas agar risiko salah ambil berkurang. Hal serupa berlaku untuk obat high-alert seperti elektrolit pekat, yang biasanya diberi label khusus.

Bahan berbahaya seperti cairan mudah terbakar juga dipisahkan dari area penyimpanan obat. Prinsipnya: semakin besar risiko sebuah item, semakin jelas pemisahan dan penandaannya.

Pemantauan suhu dan kedaluwarsa: rutinitas yang menyelamatkan

Semua pengaturan di atas hanya bertahan kalau dipantau. Pasang termometer atau termohigrometer di ruang penyimpanan dan di dalam lemari pendingin, lalu catat suhunya secara rutin, umumnya dua sampai tiga kali sehari pada jam yang tetap. Kalau suhu keluar dari rentang, catat kejadiannya dan tindak lanjutnya, termasuk saat listrik padam.

Untuk kedaluwarsa, andalkan jadwal, bukan ingatan. Lakukan pemeriksaan berkala terhadap obat yang mendekati tanggal kedaluwarsa, dan gabungkan dengan stock opname rutin. Dari sini Anda juga bisa melihat pola: obat apa yang sering tersisa hingga kedaluwarsa, sehingga perencanaan pembeliannya bisa diperbaiki.

Pencatatan yang rapi adalah fondasi dari semua rutinitas ini. Kartu stok yang tertib, catatan suhu yang lengkap, dan daftar kedaluwarsa yang mutakhir membuat pemeriksaan (internal maupun dari dinas) jauh lebih tenang. Sistem seperti DHealthcare membantu di sisi ini: pencatatan apotek yang rapi dan bisa diakses lewat browser di laptop maupun tablet, sehingga apoteker dan staf lain bekerja dari data yang sama. Anda bisa melihat gambarannya di halaman solusi apotek DHealthcare.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah semua obat di kulkas harus disimpan pada 2–8°C?

Tidak. Rentang 2–8°C berlaku untuk produk yang labelnya memang meminta rantai dingin, seperti insulin dan vaksin. Obat lain justru bisa rusak bila didinginkan. Patokan yang benar selalu tulisan pada kemasan, bukan asumsi bahwa “lebih dingin lebih aman”.

Apa bedanya FEFO dan FIFO?

FIFO mengeluarkan barang berdasarkan urutan kedatangan, sedangkan FEFO berdasarkan tanggal kedaluwarsa terdekat. Untuk obat, FEFO lebih tepat karena batch yang datang belakangan bisa saja kedaluwarsanya lebih cepat. FIFO baru sama hasilnya dengan FEFO bila urutan datang dan urutan kedaluwarsa kebetulan sejalan.


Penyimpanan yang baik dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten: suhu dicatat, rak tertata, dan kedaluwarsa terpantau. Kalau Anda ingin pencatatan apotek yang lebih tertib tanpa instalasi rumit, kunjungi halaman pendaftaran DHealthcare dan coba langsung dari browser Anda.

Siap membuat operasional klinik lebih ringkas?

Coba DHealthcare — SIM Klinik untuk pendaftaran, rekam medis, farmasi, kasir, dan pelaporan dalam satu sistem.

Coba Gratis